Feeds:
Posts
Comments

“Hyung, aku pulang…”

Tentu saja, Hyung tidak di sini. Tapi mungkin dalam beberapa hari ke depan, aku tidak bisa memanggilnya Hyung lagi. Ini adalah kondominium yang kami sewa bersama. Dekat dengan sekolah kami. Dengankeadaan  Hyung yang berada di rumah sakit sekarang, hanya ada aku di kondominium ini, suasana sunyi saat aku pergi ke kamar Hyung sesuai kebiasaanku. Cahaya lampu jalanan masuk ke kamar kakakku. Barang-barang yang biasa ia pakai terletak di sebuah kotak, menunggu pemiliknya datang. Di apartemen ini, sebagian barang adalah milik Hyung; kalau ia tidak akan kembali, untuk apa menyimpan barang-barang ini?

*****

Koridor rumah sakit sangat sepi. Perawat mengatakan kalau Hyung sudah tidur, aku hanya bisa memandang wajahnya dengan tenang dan harus pergi setelah itu. Tapi dengan sengaja aku masuk ke dalam kamarnya.

Hyung bergantung pada mesin, matanya terpejam erat seperti mayat. Sudah satu minggu sejak dia pingsan, tapi ia belum juga bangun,. Itu tidak berarti ia tidak akan bangun selamanya kan?

Bahkan jika dia bangun, dia masih akan sering terkena serangan jantung dan setelah sekian lama, itu akan mengantarnya pada kematian yang mendadak. Itu yang dikatakan dokter.

Meskipun senyum Hyung seringkali lemah dan lembut, ia amat sangat jujur. Dibandingkan dengan Jungho Hyung yang kaku dan Jinho Hyung yang mengerikan, Eunho Hyung sangat lembut. Itu karena Hyung yang malang menderita penyakit yang sama dengan Ayah, yang juga sedang menunggu saat-saat terakhirnya.

Memandang wajahnya yang kurus, aku meraih tangannya dan meletakkannya di wajahku, rasanya hangat. Masih ada tanda kehidupan darinya.

“Hyung…ada orang yang kusuka.”

Sama seperti hari-hari biasanya, aku bercerita dengan bersemangat. “Oke, secantik apa dia kali ini?” aku menunggu pertanyaan itu dan senyuman dari Hyung. Tapi ia tidak menjawab.

“Aku jadi gila, serius…kenapa aku bisa tergila-gila seperti ini? Apa karena ia selalu muncul? Aku bahkan jarang memikirkan Ayah, meskipun aku sangat merindukannya. Padahal aku cuma tahu namanya.”

Adik semata wayangnya tengah mabuk kepayang, tapi ia tetap saja tidur dan tidak menjawab.

“Hyung…hyung… Eunho Hyung…”

“……”

“Kamu mau tidur terus seperti ini…?”

“…”

“Dengarkan aku…”

*****

Beberapa hari yang lalu, Ibu datang ke sekolah. Gara-gara rambutku dicat.

Sejak masuk sekolah menengah, ibuku selalu keluar masuk sekolah karena hal-hal sepele seperti ini. Apa ia membuat masalah besar? Dengan cepat ibuku sampai ke sekolah. Aku merasa telah membuat Ibu sedih, di saat yang sama, aku kecewa dengan guru-guru dan anggota dewan sekolah yang memanggil ibuku tanpa memberitahuku lebih dulu.

Aku seharusnya menurut, tapi meskipun aku menyesal, aku tetap tidak mau menghitamkan rambutku kembali.

Menghitamkan rambut tidak bisa mengubah apapun, apa bisa hal itu menjamin bahwa Hyungku yang di rumah sakit akan terus hidup?

*****

Di hari dikeluarkannya kakakku dari rumah sakit, aku menawarkan tempat tidurku kepadanya karena kamarnya masih berantakan; Aku berbaring di lantai dan membicarakan Kim Jaejoong.

Meskipun kami saling membicarakan berbagai hal dan dia juga tahu semuanya—siapa yang kutemui, dengan siapa aku berhubungan—tetap saja, aku masih belum bisa memberitahunya, “Aku suka laki-laki dan dia sangat cantik.”

Walaupun Hyung kelihatan sangat lelah, dia bilang tidak masalah dan menyuruhku meneruskan ceritaku dengan nada yang lembut. Aku mengumpulkan seluruh tenagaku untuk bicara, tapi Hyung tidak merespon dalam waktu yang lama setelah mendengarkanku. Mungkinkah jantungnya terlalu kaget dan ia berhenti bernafas? Aku segera berdiri dan melihat wajahnya. Tapi ia kelihatan seperti sedang mempermainkanku, tersenyum dengan wajah senang.

“Cantik sekali?”

“Ah…apa-apan kau, membuatku kaget.”

“Aku sedang menyusun kata-katamu, kelihatannya dia cantik sekali.”

“…Yeah, sangat cantik sekali.”

Setelah menyelesaikan kalimat itu, aku merasa agak malu, dan menghabiskan waktu dengan memandang langit-langit. Aku menggosok kepalaku dan menyentuh hidungku, menunggu untuk tidur, tapi aku tak bisa tidur.

“Aku mau ke sekolah….”

“Benarkah?”

“Mungkin itu terakhir kalinya aku pergi ke sekolah….”

Suasana hening, berapa lama lagi kita bisa berbaring bersama seperti ini? Aku ingin memanggil nama Hyung, tapi airmataku menghalangiku. Kami berdua diam.

Karena setiap hari bisa saja menjadi saat terakhirku bersama Hyung, dan aku ingin menjaganya, aku jadi tak bisa tidur.

*****

Pagi itu, Jungho Hyung datang ke tempat kami, ia membawakanku sepeda baru. Sebenarnya, ia ingin melihat Eunho Hyung, tapi aku bilang ia baru tidur, jadi akhirnya ia pergi.  Meskipun selama ini selalu merasa terancam, aku jadi laki-laki sejati kali ini; Ia kelihatan sangat puas.

*****

Musim dingin lalu, tinggiku bertambah 3 cm dan aku kini lebih dari 1,8m. Ibu bilang kalau aku mau seperti Ayah, aku mungkin akan terus tumbuh. Aku mulai berlatih tinju, makan banyak dan melakukan kegiatan biasa lainnya. Bertarung tidaklah lebih dari sekedar olahraga.

*****

Pertarungan kemarin belum cukup untuk pemanasan, teman-temanku juga berpendapat sama, mungkin karena itu kami bisa akrab. Sejak SMP hingga sekarang, kami berenam selalu sekelas, tidak heran jika kami tidak pernah bertengkar.

Jika aku masuk melalui gerbang sekolah sekarang, aku pasti ditangkap oleh guru dan diceramahi selama satu jam, jadi kuputuskan untuk memanjat tembok.

Setelah Ibu datang hari itu, meskipun guru tidak akan memukulku, tetap saja mereka akan menceramahiku. Selama dia tidak melihatku memanjat, aku akan bisa lari ke kelas dengan cepat.

Kuparkir sepeda di luar gerbang sekolah dan kubenahi tasku. Aku menggosok tangan, bersiap-siap melompat dan memanjat tembok. Kemudian, muncullah sesosok berambut hitam yang tidak familiar di samping tembok.

Kim Jaejoong. Ia meletakkan tasnya di depan dan menggeledahnya. Kemudian ia memasukkan tangannya ke kantung dan memutar tasnya lagi. Jelas sekali benda yang ia cari: nametag, benda yang harus kau pakai sebelum memasuki gerbang sekolah.

Hyung bilang nama biasanya dijahit di seragam, tapi ada juga murid yang menganggap itu ketinggalan zaman, jadi sekolah menerima pendapat siswa dan merubahnya menjadi nametag. Akan tetapi, ada keharusan untuk memasang nametag di tempat yang terlihat oleh guru. Sekolah kami masih menganut tradisi mengenakan seragam dan memasang nametag di jas.

Naif sekali… Aku berjalan ke belakang Kim Jaejoong. Aku melihat bahunya yang lebih kecil daripada milikku; ia masih berusaha mencari nametagnya. Setelah itu, sikunya menusuk dadaku. Runcing sekali…aduh…

“Kau…!”

“Aduh…sakit.”

“Siapa suruh berdiri di sana?”

Begini caramu memperlakukan penyelamat hidupmu? Ia memandangku dengan matanya yang tajam. Bukan salahku nametagmu hilang, kenapa melihatku seperti itu? Tiba-tiba aku merasa menderita diperlakukan tidak adil begitu, kuputuskan untuk menjauh saja. Lalu, aku mulai membayangkan guru menangkap tubuhnya yang seperti kupu-kupu itu. Tongkat guru tersebut tidak begitu tebal, tapi tetap saja jika dia dipukul, mungkin dia akan menangis… Ah, perasaanku jadi tidak enak, aku tidak bisa meninggalkannya sendiri di sini. Tanpa pikir panjang kutarik tangannya.

“Sedang apa kamu?”

“Katanya kamu tidak punya nametag?”

“Kapan aku bi—“

“Ke sini.”

Aku mempercepat langkahku dan berjalan menuju sudut tembok. Bocah yang sedang kutarik ini sangat manis. Kami hanya berjalan beberapa meter, tapi aku merasa sudah berlari sangat jauh dengannya. Senang sekali.

                            

Reduced Horizon 2

“Kata yang lain kamu ada di sini. Katanya kamu mau pulang? Kenapa masih di sini?” Teman-temanku bertanya dengan nada yang menjengkelkan, tapi setelah melihat ekspresiku yang tidak seperti biasanya, mereka segera diam. Pandangan mereka lalu tertuju pada sepedaku. Memandang si anak ber-scarf putih, mereka bertanya, “Bocah ini?”

Ia mengangkat bahunya, hal itu dimengerti oleh teman-temanku.

“Bukan dia.”

“Benar, mana mungkin bocah sekurus dia bisa melakukannya,” sahut temanku setuju.

Kau harus tahu siapa pemilik sepeda yang kau rusak ini, Lee Joohun sialan.

“Aku juga belum pernah kalah.”

Aku membalas kata-katanya tadi dengan nada yang sama. Tidak, itu karena aku sangat percaya diri.

Kupikir ia akan terkejut dan membelalakkan matanya. Tapi ia merapatkan mulutnya, sudut bibirnya membentuk sebuah busur, seperti iblis yang manis. Senyumnya tidak sama seperti saat ia benar-benar tersenyum. Matanya menyiratkan sebuah tantangan—ekspresi seorang anak kecil yang bertaruh dan sedang menanti hasil yang akan keluar. Manis sekali.

Aku membalikkan badanku.

Apakah ia akan memandangiku? Atau ia akan pergi begitu saja? Wajah cantiknya mulai membayang di pikiranku. Aku masih saja memikirkannya saat menaiki mobil sewaan. Perasaan khawatir terhadap hyung-ku tertutupi oleh anak itu—-pipinya yang putih, lembut dan merona semakin sempurna dengan  rambut dan matanya yang hitam.

Teman-temanku mengungkapkan hal yang sama, “Ah, cantik sekali. Kenapa laki=laki bisa secantik itu?” dan berlanjut dengan percakapan yang membosankan.

Entah kenapa, aku merasa mereka sangat menyebalkan. Aku benar-benar ingin membungkam mulut mereka.

Meskipun kebanyakan dari kata-kata mereka hanya candaan, cara mereka memandangku terlihat tidak normal.

“Yaah, tidak berarti  kamu…”

“Tidak, sialan, bagaimana bisa?”

“Benarkah, huh?”

“Sungguh!”

Aku bahkan tidak bisa membalas ejekan mereka. Kalau ku balas, mereka pasti bilang, “Tidak artinya ya.” Atau…jangan-jangan mereka telah mengetahui apa yang ada di dalam diriku?

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, ibuku menelepon. Suaranya lebih tenang daripada biasanya.

Melihat wajahku yang mendung sambil melihat bangsal rumah sakit, teman-temanku mengatakan kakakku pasti baik-baik saja. Aku meninggalkan mereka dan melangkah menuju bangsal.

Aku membuka pintu dengan pelan, dan memasuki ruangan yang dipenuhi oleh bau formalin.

Jinho Hyung, Jungho Hyung, dan ibuku…ekspresi mereka  terlihat tidak enak. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar merasakan kesuraman. Aku menepis mereka semua dan menghampiri tempat tidur rumah sakit, Eunho Hyung tersenyum kecil dengan wajahnya yang pucat.

Tujuh belas tahun.

Aku seperti bisa mencium aroma kematian kakakku.

*****

“Argh, urgh…”

“Baru kali ini aku melihat orang yang membuka mulutnya untuk tetap hidup.”

“Brengsek…! Argh, argh, urgh…”

“Kita berdua sama, aku juga manusia. Apa kamu tidak tahu kalau aku lebih dirugikan?”

Aku memandang sekeliling dengan kepala Lee Joohun di tanganku. Aku memandang orang-orang yang menonton pertarungan kami dari awal. Setelah itu, mereka semua lari tunggang langgang seperti kecoa yang ketakutan. Meskipun kepalanya terluka, ia tetap berteriak pada anak-anak yang kabur itu.

Sebenarnya, aku tidak berencana untuk menghajarnya seperti ini, tapi alasannya merusak sepedaku membuatku marah.

Lima menit yang lalu, kata-kata yang keluar dari mulut bedebah ini adalah alasannya. Kata-kata tak masuk akal yang membuatku naik pitam.

“Ya begitulah; Aku tidak suka melihat penampilanmu.”

Aku tidak bisa percaya itu alasannya merusak sepedaku. Konyol.  Aku memukulnya sekali lagi dan dia mengeluarkan suara seperti orang sekarat.

Cuaca menjadi lebih hangat.

Aku menarik kepalanya sambil berlutut di sampingnya, hidungnya belum patah, hanya ada darah yang mengucur dan terlihat jelek.

“Siapa namanya?”

Lee Joohun kelihatannya tidak mengerti kata-kataku, dan terkejut mendengar pertanyaanku yang mendadak.

“Orang yang satu sekolah denganmu.”

“Eh…? Brengsek, tidak hanya satu dua orang yang satu sekolah denganku!”

“Orang yang kau taksir.”

Setelah mendengar jawabanku, ia segera tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Sepertinya si scarf putih tidak berbohong. Ah, aku jadi memikirkan wajahnya lagi. Aku memanggil Lee Joohun dengan jengkel, menunjukkan muka kesalku kepadanya. Sekarang kau sudah ingat namanya?

“Cepat, siapa namanya?”

Aku menggoyangkan kepalanya agar ia buka mulut, tapi ternyata ia tidak semudah itu. Tidak sabar, kupukul lagi.

“Kalau kau tahu namanya, kau mau apa?”

“Menjadikannya istri,” jawabku tanpa pikir panjang.

Wajahnya menunjukkan kecemburuan.

Apakah ini mengejutkan? Apa tidak boleh menyukai orang yang cantik?

“Siapa namanya?”

“Aku tidak tahu, bangsat.”

“Hmm…”

Berhubung anak ini tidak patuh, senjata adalah satu-satunya cara. Aku melepaskan kepalanya ke tanah kembali.

“Bagaimana bisa seorang murid membawa pisau?” orang-orang di sekeliling berbisik-bisik. Aku memandang mereka marah, dan mereka segera diam. Suasana kembali hening.

Dua bulan lalu, aku merayakan ulangtahunku bersama Jungho Hyung.

Pisau Tentara Swiss ini adalah kado ulangtahunku, bersama dengan sepeda yang aku idam-idamkan. Saat Ibu melihat pisau tajam ini, beliau berbunyi seperti alarm dan ingin menjauhkan benda ini dariku. Tapi Jungho Hyung menghentikannya. “Bocah ini sudah 17 tahun, ia belum pernah menyentuh benda ini sekali pun.” Teori Hyung yang tidak masuk akal itu membungkam Ibuku.

Jinho Hyung dan Eunho Hyung sama seperti ibu kami. Sementara mereka suka belajar, Jungho Hyung memiliki temperamen yang sama dengan Ayah, dan membuat onar adalah rutinitasnya sehari-hari.

Saat memasuki sekolah menenga, Jungho Hyung sepertinya ingin aku mengikuti jejaknya. Mengikuti pertarungan antar geng dan naik sepeda juga salah satu dari pengaruhnya. Ibu selalu memarahinya tapi itu tidak mempan pada Hyungku yang bermuka badak itu.

Aku memutar-mutar pisau yang tidak berarti apa-apa selain kado ulangtahunku itu. “Itu mainan anak-anak,” aku ingat kata-kata Hyungku itu.

Lee Joohun mungkin saja takut pada mainan anak-anak yang berkilau ini.

Menyerah, menyerahlah… Ia mengangkat kedua tangannya, kelihatannya berusaha menenangkanku.

“Bocah cantik itu, siapa namanya?”

Aku meletakkan pisau itu kembali ke sakuku. Akhirnya, Lee Joohun menurunkan tangannya dan menghembuskan nafas lega.

“….. Kim Jaejoong.”

“Ah, ini baru jawaban yang benar.”

“Sialan kau, brengsek! Aku sudah menghabiskan waktu lama… Argh, argh, argh!”

Aku menendangnya karena kupingku gatal mendengar suaranya. Tentu saja bukan karena ingin balas dendam, apalagi cemburu. Aku berbalik dan melalui celah kosong di belakang, meninggalkan bocah itu di kantin.

Meskipun aku mendengar suara-suara yang memakiku, kepalaku hanya dipenuhi oleh sebuah nama dan wajah, aku tidak peduli dengan yang lainnya. Pikiranku dipenuhi oleh dirinya dan tidak ada yang dapat menghentikan hal ini.

Kim Jaejoong, Kim Jaejoong. Bahkan pelafalan namanya pun bagus.

Aku selalu beralasan kalau aku tidak punya sepeda dan tidak baik kalau aku tidak sekolah. Dan yang luar biasa, minggu ini aku masuk sekolah setiap hari. Karena si scarf putih—Kim Jaejoong. Meskipun setiap hari aku masuk sekolah tanpa absen sama sekali, aku tidak melihatnya. Selain itu, aku tidak tahu di mana dia dan dalam hati aku penasaran. Aku bahkan tidak tahu di mana kelasnya, menyedihkan sekali.

Memalukan sekali kalau aku menyuruh teman-temanku untuk mencari tahu, dan aku juga tidak bisa bertanya pada Lee Joohun lagi.

Aku mabuk kepayang; itu cuma terjadi sebentar dan aku sudah tenggelam dalam depresi sedalam ini? Ini terlalu kuat, aku ingin melupakannya, tapi tidak semudah itu melupakannya.

Aku harus melakukan sesuatu…

Haruskah aku pergi ke kantor dan menanyakan alamatnya? Tapi akan terjadi kekacauan. Ah lupakan saja. Itu karena di sekolah telah tersebar rumor bahwa Lee Joohun hampir terbunuh oleh Jung Yunho. Ini sama saja dengan memasukkan namaku ke daftar hitam sekolah. Kalau aku mengacau lagi, reputasi kakakku yang tengah berbaring di rumah sakit akan hancur. Lebih baik menahan diri.

Lee Joohun sedang sakit; Aku jadi rindu sekali padanya.

*****

Tugas piket membersihkan kelas kami ditentukan berdasarkan nomor absen kami. Aku tidak tahu kenapa aku disuruh menggantikan No. 1 meskipun namaku ada di bagian akhir daftar absen. Meskipun kesal, aku tidak bisa memukul guru perempuan; Kuseret tempat sampah keluar ke koridor.

Dalam sehari, ada masing-masing satu anak laki-laki dan perempuan yang bertugas piket. Berdasarkan daftar, aku akan bertugas bersama No. 16. Si No. 16 memegangi sisi lain tempat sampah. Setelah merasa tong tersebut sudah ringan, aku memberikannya dengan santai. Kini si No. 16 tersenyu, padaku, terlihat sedikit malu-malu dan menundukkan kepalanya.

Ah, cuaca sangat bagus. ‘Hari ini aku mau minum dengan teman-temanku’—aku berencana dalam hati.

Tentu saja, sebelum itu, aku harus mengunjungi kakakku. Semoga hari ini ia tidak tidur saja seperti mayat, tapi bangun dan marah-marah. Akhir-akhir ini, Hyung tidur lebih dari setengah hari; obat-obat itu menguasai Hyung yang seolah membawa bom yang bisa meledak kapan saja, sekaligus memelihara hidupnya dalam waktu yang sama.

Dia masih saja berkata kalau sangat beruntung. Hyungku yang bodoh. Mulutku jadi terasa pahit memikirkan dirinya. Aku memandang sekeliling,  mencari tempat untuk merokok.

“…….”

Sama seperti hari itu, saat pertama kali aku bertemu dengannya. Bocah ini selalu mengagetkan; Aku tidak bisa membayangkan di mana aku akan bertemu dengannya.

Aku menemukannya, dalam waktu seminggu.

“Kau bisa pergi sekarang. Serahkan saja semuanya padaku.”

Dari luar, aku terlihat baik pada perempuan. Wajahnya memerah lagi; Aku jadi benar-benar ingin mengahmpirinya dan bertanya dengan sopan, “Apakah kau melihat laki-laki yang ada di sana?” untuk membuatnya malu.

Bocah itu selembut buah cherry dan sehalus buah peach. Ah…, sial, dia bahkan menjadi semakin cantik selama aku tidak melihatnya.

“Kalu begitu aku pulang duluan, Yunho, terima kasih.”

Si No. 16 pergi, di tempat pembakaran sampah beberapa orang datang lalu pergi lagi, tapi aku tidak peduli.

Jarak antara aku dan bocah itulah yang paling penting saat ini. Aku bahkan tidak berpikir sama sekali untuk mengosongkan tempat sampah, aku terus memandangi bocah itu. Dengan tujuan memisahkan sampah yang bermacam-macam, ia menggulung lengan bajunya dan aku terkesima melihat lengan kurusnya yang cantik. Ia memisahkan sampah pelan-pelan; mungkin karena kesulitan ia berhenti dan hanya membalikkan tempat sampah. Ia tidak tahu siapa kepala sekolah kami. Kalau ketahuan berbuat seperti itu, ia akan dimarahi.

“Pemandangannya bagus, huh?”

Dia pasti tahu aku ada di sini. Aku berjongkok dan mengambil sebuah ranting pohon. Aku mendekatinya, perlahan ia mengangkat kepalanya. Karena sinar matahari ynag menyilaukan, tangannya menutupi pandangannya. Setelah beberapa saat, ia menurunkan tangannya dan melihatku. Ada aku di matanya, ia mengenaliku, aku senang sekali.

“Aku sakit.”

“Sakit apa?”

“Aku sedang pilek.”

Kau menjadi cantik karena kau sakit? Atau kau sakit karena kau menjadi cantik? Karena kata-katanya, aku jadi berpikir yang aneh-aneh lagi. Setiap hal yang berhubungan dengan dirinya, selalu membuatku berpikir macam-macam, menurutku ini menarik sekali. Sejak pertama bertemu dengannya aku sudah merasakan kalau bocah ini special sekali, setiap kata yang ia ucapkan kepadaku sangat unik. Aku benar-benar jatuh ke dalam pesonanya.

“Kamu masih datang ke sini meskipun kamu sakit selama seminggu?”

“…. Aku benar-benar sakit, gara-gara aku tidak pulang ke rumah. Jangan sok tahu kalau kamu tidak tahu yang sebenarnya.” Di bawah hidungnya yang lucu, bibirnya mencibir.

Ah, salahku, ia menundukkan wajahnya.

Meskipun kami hanya berjarak beberapa langkah, aku tidak bisa mendekatinya. Untuk pertama kalinya, aku bertemu dengan bocah seperti ini. Untuk pertama kalinya jantungku berdebar kencang. Aku hanya berdiri seperti orang bodoh, tidak tahu harus berbuat apa.

Bocah itu melempar ranting pohon dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya, seperti seekor landak. Ganggu dia dan dia akan menusukmu. Dia tidak pulang ke rumah…apa telah terjadi sesuatu?

Tap, tap, muncul suara langkah kaki. Pasti murid lain yang sedang tugas piket juga.

Wow, ternyata ada juga orang yang terlihat seperti kodok. Orang seperti itu memanggilnya dengan sayang, “Jaejoong—“

Aku saja belum bisa memanggil namanya. Si muka kodok ini pasti berhubungan baik dengannya.

Ia bangkit, membawa tempat sampah bersamanya, dan terbang menuju si kodok seperti kupu-kupu. Si kodok mengambil tempat sampah di tangan Jaejoong.

“Biar aku yang bawa, ini kotor….”

“Hmm.”

Kedua orang itu lalu menghilang dari tempat pembakaran sampah, meninggalkan aku dan sebuah tong yang penuh dengan sampah.

Ah… Apa-apaan ini… Aku… Sekarang…

Si kodok mencuri bocah cantikku. Sialan, aku terkecoh. Bagaimana bisa kodok itu dibandingkan denganku!!!

“URGH!!!!!”

Reduced Horizon 1

Kakakku selalu berkata bahwa permulaan adalah hal yang penting.

Meskipun rentang usia antara aku dan kakak laki-lakiku tidak begitu jauh, ia selalu memberiku saran dan nasihat, dengan suaranya yang lembut. Meskipun agak menjengkelkan, aku selalu mengikutinya, karena dia perhatian padaku. Jika aku ingin menjadi seseorang, orang itu adalah Eunho Hyung. Meskipun kami memilih jalan yang berbeda, aku berharap kami bisa tetap sedekat ini.

Walaupun kakak mengatakan padaku betapa pentingnya permulaan, hari di mana aku pertama melangkah sangatlah buruk. Hujan terus turun, dan meskipun sekarang awal musim semi, cuacanya lebih dingin daripada musim dingin.
Ibuku memandang keluar jendela, dan melarangku naik sepeda. Aku masih ingin tidur lagi tapi kata-kata tersebut memberitahuku bahwa aku tidak bisa melakukannya.. Setiap kali aku naik mobil ke sekolah, teman-temanku selalu mengejek, “Kamu mau pamer ya?”. Aku benci kata-kata itu sehingga aku menyuruh supirku untuk tidak mengantarku.

Diam-diam aku naik sepeda dan ngebut, senang sekali rasanya. Akan tetapi, di dekat sekolah aku tergelincir. Untungnya tidak parah. Aku terjatuh dari sepeda dan terguling-guling di tanah beberapa kali. Rasanya sakit sekali, tapi yang lebih parah adalah nasib seragam baruku.
Ah, setelah berdiri aku mendapati pipi kiriku juga tergores. Aku tidak dapat meninggalkan sepedaku begitu saja jadi kusandarkan saja ke dinding. Kecelakaan ini merusak mood-ku.
Siapa yang mau kusalahkan? Ini salahku sendiri. Aku mengeluh dan memandang ke langit, yang terlihat sangat jauh. Awannya bersih tanpa ada noda setitik pun. Setelah menarik nafas panjang, dengan malas aku melangkah menuju aula sekolah yang ramai.

Di dalam sangat ramai, susah sekali memperoleh kursi. Untungnya upacara diundur sepuluh menit, sehingga aku belum begitu terlambat.
Aku mendengar pidato pembuka Hyung. Aku tahu siapa yang paling cerewet menceramahiku soal sepeda.Aku sudah bisa mendengar Jeongho Hyung memarahiku, “Kamu mau sepeda baru lagi, secepat itu?”

Aku tidak bisa duduk di barisan kelasku karena kursinya sudah diduduki anak-anak lain, jadi aku duduk di baris terakhir. Aula itu berisik sekali seperti pasar, tapi keributan itu segera berhenti. Upacara hampir dimulai. Seseorang naik ke panggung dan mengambil mikrofon. Aku memperhatikan panggung dengan teliti, seolah aku yang akan berpidato. Meskipun begitu aku tidak melihat Hyung yang seharusnya sudah ada di atas panggung.
Seharusnya ketua murid lah yang mengesahkan upacara pembukaan tapi orang lain yang melakukannya. Semua orang di aula jadi resah, karena banyak yang menyukai Eunho Hyung.

Kakakku tidak muncul sama sekali, aku jadi sedikit khawatir. Aku memainkan handphone di sakuku, haruskah aku menelponnya? Akhirnya aku memutuskan untuk tidak melakukannya. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat.

Kepala sekolah mengambil mikrofon dan murid-murid jadi semakin kesal karena pidatonya seperti tidak ada ujungnya.
Aku memandang ke sekeliling aula. Meskipun sekarang masih awal Maret, cuacanya dingin. Anak perempuan menggoyangkan kakinya dan merapatkan mantelnya agar tetap hangat. Walau bagaimanapun kepala sekolah tidak menyadarinya. Dia terus saja berpidato.

Leherku agak sakit. Apa mungkin karena tadi aku jatuh? Aku memutar leherku, berusaha merilekskannya.
Sesuatu selalu terjadi saat kita tidak menyadarinya. Aku sedang merasa bosan saat tiba-tiba,
“Ah, maaf!”
Aku menengok ke kiri tempat suara tersebut berasal. Siapapun itu, dia benar-benar terlambat. Berdasarkan kericuhan yang dia buat, kelihatannya dia menginjak kaki seseorang. Aku menajamkan pendengaranku. Suaranya menarik sekali. Tak hanya aku yang berpendapat seperti itu, anak-anak perempuan di sekitarku juga. Bisikan mereka, “Tampannya,” terdengar di telingaku.
Tanpa disadari, aku jadi penasaran. Aku harus melihat siapa itu. Aku menengok untuk melihatnya.
“Ya Tuhan..”
Aku melihat dia pindah ke kursi yang sepertinya sudah disiapkan oleh temannya dan sejenak, waktu seakan terhenti. Mataku tertuju hanya kepadanya. Aku mengalihkan pandangan tapi bayangannya terekam di benakku. Rasanya seperti habis melihat matahari. Aku tahu ini akan pulih dalam waktu yang lama.
Kemudian aku memandangnya lagi.

Pertama, aku terkesima dengan matanya yang seperti rusa.
Kedua, warna kulitnya. Tak terlupakan.
Ketiga…
Sial, dia tidak hanya rupawan, dia benar-benar cantik.

Ia mengenakan seragam yang sama denganku. Rambutnya panjang, menutupi telinga dan lehernya. Mata indahnya, bulu matanya yang hitam, scarfnya yang tidak serasi dengan seragam, kulitnya yang pucat, jarinya yang lentik menutupi mulutnya dan bibir yang merah mengintip dari balik jemarinya–semuanya menghipnotisku. Ia sedang tertawa, tangannya menutupi mulutnya, sementara matanya yang besar menyipit seperti bulan sabit—benar-benar seperti perempuan, meskipun dia bukan perempuan. Kenapa dia terlihat seperti itu? Apa mungkin karena scarfnya? Kedua mataku, tak bisa lepas darinya.
Suara-suara di sekelilingku belum berhenti tapi memandanginya, segalanya—pidato kepala sekolah yang membosankan, keramaian di aula, semuanya hilang meniggalkan aku dan dia di aula yang dingin ini. Kami saling memandang. Rasanya sangat spesial, entah kenapa, sangat berarti.

Di aula yang dingin itu, aku melihatnya berbincang dengan teman-temannya, mataku menyusuri bibir merekahnya yang terus bergerak. Ia mengangkat tangan dan meniupnya, berusaha menghangatkannya. Bibirnya terlihat seperti buah cherry. Oh kenapa dia begitu mengagumkan?

Tiba-tiba, keramaian di aula datang kembali padaku—terdengar suara bangku yang diseret. Aku bahkan tidak menyadari kalau waktu telah berlalu begitu cepat, karena memandanginya. Upacara sudah selesai dan aula mulai kosong. Aku masih bisa melihat rambut hitam dan scarf putihnya di tengah keramaian tapi tak lama kemudian, ia menghilang. Meskipun tubuhnya kurus, ia menghilang cepat sekali.

“Jung Yunho!”
Teman-temanku menghampiriku.
Aku bersandar pada pilar di luar aula. Wajah-wajah familiar teman-temanku menyadarkanku.
“Pidatonya lumayan, ya? Ada apa dengan Eunho? Kami tidak melihatnya sama sekali. Kamu sudah menghubunginya?”
Mendengar teman-temanku, tiba-tiba aku sadar bahwa aku benar-benar melupakan Hyung. Meraih handphoneku, aku meneleponnya. Rasanya aku seperti telah dipindahkan ke dunia yang lain, seperti dalam mimpi.
Dia tidak bisa dhubungi. Apa yang terjadi? Aku sangat khawatir kini. Aku pergi ke kelas Hyungku tapi tidak menemukannya di sana. Temen-temannya tidak tahu di mana dia. Aku pergi ke ruang guru dan mencari wali kelasnya. Dia bilang hyung dilarikan ke rumah sakit. Aku bingung. Kenapa dia ke rumah sakit? Guru tersebut menepuk kepalaku dan berkata jangan khawatir.
“Eunho pingsan sebelum upacara pembukaan dimulai.”
Aku tidak percaya dengan pendengaranku. Anemia yang Hyung derita memang selalu jadi masalah tapi tidak sebesar itu sampai membuatnya pingsan. Aku berharap semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk. Melewati teman-temanku, aku berlari menuju sepedaku. Salju turun semakin deras…dan…
“…Sial.”
Aku meninggalkan sepedaku bersandar di dinding tapi sekarang tergeletak di tanah, terlihat seperti sudah mengalami kecelakaan setidaknya 12 kali. Tergores, penyok dan kelihatan lebih buruk daripada rongsokan. Siapa yang berani merusak sepeda kesayanganku? Aku mengepalkan tangan dan melihat sekeliling. Murid-murid lain melewatiku seolah tak ada apa-apa. Tak ada yang terlihat mencurigakan. Hyung pasti marah dan aku kesal sekali melihat sepedaku.

Tuk tuk tuk – Aku mendengar langkah kaki mendekat.
Sepasang sepatu kulit yang terikat rapi muncul ke hadapanku. Meskipun aku hanya melihat sepatunya, aku tahu siapa itu.
Itu anak laki-laki yang memakai scarf putih. Aku memandangnya, wajahnya jadi semakin pucat dan merona. Scarf menutupi bagian bawah wajahnya, sehingga hanya bagian di atas hidungnya saja yang tampak.
Scarf tersebut menutupi bibir merahnya sehingga awalnya aku tak bisa mendengar apa yang ia katakan. Melihat ekspresi kebingunganku, ia menarik turun scarfnya. Ia terlihat tidak begitu senang. Raut wajahnya seolah mengatakan, ‘Memangnya kau siapa sampai membuatku membuka scarfku?’
Tapi ia mendekat..dan terus mendekat…!

“Lee Joohun.”
Aku tidak kenal nama itu.
“Kami dari sekolah yang sama. Dia terkenal suka bikin ulah.”
Akhirnya aku mengerti. “Ah..maksudmu dia yang merusak sepedaku? Kau kenal dia?”
“Dia mengejarku.”
Jawabannya sangat aneh, aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Kelihatannya dia serius. Tapi jika dilihat-lihat, dia terlihat bodoh. Cantik tapi bodoh. Ia meringis, “Kau tidak percaya padaku.” Wajahnya penuh kemarahan, saking marahnya sampai aku bisa melihat pembuluh darahnya mencuat.

Ya ampun…, anak ini, benar-benar…

Tapi semua ada waktunya sendiri-sendiri. Aku mengingatkan diriku kalau aku tidak punya waktu untuk berbincang-bincang dengan anak ini. Aku memandang sepedaku dan kemarahanku muncul lagi. Aku menendang tumpukan logam itu. Anak itu sedikit terkejut melihat aku melampiaskan kemarahanku seperti itu.
Suara terkejutnya mengalihkan emosiku. Sepertinya dia terkejut sekali.
“Bisakah kau beritahu dia untuk menemuiku pulang sekolah, besok?”
“Yeah, tidak masalah.”
Jawabannya yang santai membuatku penasaran. Meskipun dia tampak bersemangat membantuku, aku sedikit curiga.
Tapi sekarang ada hal yang lebih penting, aku harus menemukan Hyung. Bersama anak ini membuatku melupakan semua hal. Kurasa aku harus menjauh darinya.
Tanpa ragu lagi aku tahu kalau anak ini bisa membuatku lupa pada apa yang akan kulakukan. Tak peduli berapa lama aku mendengarkannya berbicara, aku tidak bisa menjauh dari pesona suara lembutnya. Tidak terlalu lantang, dan tidak terlalu pelan, dan kata-katanya tidak sesuai dengan suaranya yang indah.

“Boleh aku pergi sekarang?”
“Kenapa…”
“Aku ingin jalan-jalan.’
Ia menjawab dengan nada jengkel dan aku memandangnya lagi.
Setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya membuatku hilang akal.
Anak ini cepat sekali berubah. Aku tidak bisa membiasakan diri dengannya. Aku tidak bodoh, tapi standar kami agaknya berbeda.
“Aku mau lihat wajahnya babak belur.”
“Brengsek..Lee Joohun, dia belum pernah kalah.” Bibir manisnya tidak terlihat malu mengucapkan kata kasar.

Melihat tatapan dinginnya, aku mengingat-ingat lagi. Lee Joohun…rasanya nama ini familiar. Mungkinkah dia salah satu dari pembuat onar yang pernah dikatakan oleh temanku?